Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun
menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario
tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam
dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah,
mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia
pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia
tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di
meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan
obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok
garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main
dengan anak-anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia
sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama 8 tahun
pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu
suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering
jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan
harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.
Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak
pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona.
Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam sehingga jarang punya teman
yang akrab.
5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat-ingat 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup
drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku,
dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x.
Dia membelikan aku parfum
baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering
termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau
aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan
wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar,
dan menyapa dengan suara riangnya,
“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? Tidak mau
makan juga? Uhh dasar anak nakal, sini piringnya, lalu dia terus
mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring
nasi itu sudah habis di tangannya. Dan aku tidak pernah melihat tatapan
penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak
pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah
sedetikpun!”
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.
Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat
ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika
dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu.
Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku.
Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton.
Kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu-lucu.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak di hatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil
membuka password email Papa nya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat
surat papa buat tante Meisha?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada
Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku. Ketika aku menikahinya,
aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada
perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan
rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya.
Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik
terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak
sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari
untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta
untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti
pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman
dari pemiliknya.
Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta
disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen
pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa,
asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
segala yang dia inginkan selama aku mampu.
Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku
dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang
menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the
only one in my heart.
Yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.
Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku.
Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku.
Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku.
Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya.
Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang
belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput
anak-anakku.
Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta
dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam
kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu
lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia
memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya?
Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan
tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan
mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan
setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya.
Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan
mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga,
karena aku akan selalu mencintainya.
———-
Setahun kemudian
Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang.
Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
“Mario, suamiku… Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku
pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku.
Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa
senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku
sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku.
Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti
keinginanku Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria,
telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau
melakukan apa saja untukku.
Ternyata aku keliru, aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor
dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima?
Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi istriku?”
Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku
bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu
Rima
Di surat yang lain,
“Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
memandang Meisha.”
Di surat yang kesekian,
“Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi
marah-marah padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan
berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan
yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak
lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu
pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah
kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku
tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai
tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat,
karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah. Meskipun belum
terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan
menantinya.”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.
Di surat terakhir, pagi ini…
“Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun
lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu
pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak
sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali,
dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi di
hatimu?
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan di wajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku.
Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti
siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah
kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya.
Mama memarkir motornya di seberang jalan, ketika mama menyeberang
jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi
aku tidak sanggup melihatnya terlontar tante. Aku melihatnya masih
memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak Jelita memeluk Meisha dan
terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit
di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.”
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia
pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir
dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku
memiliki dia. Hatiku mulai bergetar. Inikah tanda-tanda aku mulai
mencintainya?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor ke mana-mana.
Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku.
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
telah terjadi, Mario.
Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Sumber: yantekbansel.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Dilarang Menangis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dilarang Menangis. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Februari 2014
Senin, 18 November 2013
inspirasi :: Ketika Bung Karno Terpaksa Dijadikan "Dukun"
Sepenggal kisah, manakala Bung Karno baru saja tiba di Bengkulu, usai
menjalani pembuangan di Pulau Bunga, Ende. Di daerah “basis Islam”
dengan alam yang dikelilingi pegunungan Bukit Barisan, Bung Karno
awalnya tidak memiliki banyak sahabat.
Setiap orang yang berkunjung ke kediamannya, esoknya langsung dipanggil kantor polisi. Dicatat, ditanya apa-apa saja yang dibicarakan, dan tentu saja dengan ancaman untuk tidak mendatangi Sukarno.
Satu per satu, masyarakat Bengkulu mulai ketakutan untuk berdekat-dekat dengan Sukarno. Namun, magnit Sukarno begitu kuat, sehingga selalu saja ada satu-dua orang yang nekat mengunjunginya, meski mereka tahu akibatnya.
Bahkan ada salah seorang guru yang begitu rajin mendatangi Sukarno untuk sekadar ngobrol. Ia tidak pernah jera meski berkali-kali harus berurusan dengan polisi Belanda.
Lambat-laun, satu per satu, masyarakat mulai lebih berani mendekati Bung Karno. Terlebih ketika organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah sudah terang-terangan berani meminta jasa Bung Karno untuk menjadi tenaga pengajar. Pengajar agama! Dan dilarang bicara politik.
Bung Karno girang bukan kepalang. Ia tidak harus bicara politik kepada para murid. Ia cukup menceritakan kisah-kisah heroik Nabi Besar Muhammad SAW, sambil menanamkan benih-benih nasionalisme. Benih-benih cinta tanah air.
Waktu terus bergulir, dan Bung Karno pun menjelma menjadi sosok yang didudukkan pada status “orang cerdik-pandai”. Bahkan, sejumlah warga memperlakukannya laksana “dukun”.
Ia tidak hanya dimintai nasihat spiritual, tetapi dimintai juga mengobati sejumlah warga yang terserang penyakit. Satu di antaranya, ia kedatangan seorang gadis sambil menangis meraung-raung meminta tolong Bung Karno, dengan keluhan: Sudah tujuh bulan tidak bisa menstruasi!
“Apa yang dapat saya lakukan? Saya bukan dokter,” kelit Bung Karno.
“Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada bapak, dan saya merasa sangat sakit. Tolonglah… tolonglah saya… tolooong….”
Bung Karno tidak bisa mengelak. Bung Karno juga tidak ingin seorang gadis mendatanginya dengan harapan sembuh, lantas harus pulang dengan kecewa. Setelah berkonsentrasi sejenak, Bung Karno membacakan surah pertama Alquran ditambah doa-doa. Esoknya, perempuan itu mens! Kabar itu pun lekas tersiar. Dan Bung Karno “sang dukun” makin terkenal pula.
Apa itu saja? Masih ada lagi. Kisah seorang tukang perah susu yang tengah dililit kesulitan uang. Untuk suatu keperluan, dia sangat membutuhkan uang. Celakanya, dia pun yakin, dengan mendatangi Bung Karno, persoalannya akan selesai. Apa yang terjadi?
Memang begitu adanya. Dia datang ke Bung Karno dan menyampaikan keluhannya, serta memohon penyelesaian.
Bung Karno lantas meminta si pemerah susu menunggu. Sedangkan ia masuk bilik, mengambil satu potong baju dan keluar rumah lewat pintu belakang. Ia menggadaikan bajunya, demi mendapatkan uang tiga rupiah enampuluh sen. Jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu. Problem pun terselesaikan …
Sumber: apakabardunia.com
Setiap orang yang berkunjung ke kediamannya, esoknya langsung dipanggil kantor polisi. Dicatat, ditanya apa-apa saja yang dibicarakan, dan tentu saja dengan ancaman untuk tidak mendatangi Sukarno.
Satu per satu, masyarakat Bengkulu mulai ketakutan untuk berdekat-dekat dengan Sukarno. Namun, magnit Sukarno begitu kuat, sehingga selalu saja ada satu-dua orang yang nekat mengunjunginya, meski mereka tahu akibatnya.
Bahkan ada salah seorang guru yang begitu rajin mendatangi Sukarno untuk sekadar ngobrol. Ia tidak pernah jera meski berkali-kali harus berurusan dengan polisi Belanda.
Lambat-laun, satu per satu, masyarakat mulai lebih berani mendekati Bung Karno. Terlebih ketika organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah sudah terang-terangan berani meminta jasa Bung Karno untuk menjadi tenaga pengajar. Pengajar agama! Dan dilarang bicara politik.
Bung Karno girang bukan kepalang. Ia tidak harus bicara politik kepada para murid. Ia cukup menceritakan kisah-kisah heroik Nabi Besar Muhammad SAW, sambil menanamkan benih-benih nasionalisme. Benih-benih cinta tanah air.
Waktu terus bergulir, dan Bung Karno pun menjelma menjadi sosok yang didudukkan pada status “orang cerdik-pandai”. Bahkan, sejumlah warga memperlakukannya laksana “dukun”.
Ia tidak hanya dimintai nasihat spiritual, tetapi dimintai juga mengobati sejumlah warga yang terserang penyakit. Satu di antaranya, ia kedatangan seorang gadis sambil menangis meraung-raung meminta tolong Bung Karno, dengan keluhan: Sudah tujuh bulan tidak bisa menstruasi!
“Apa yang dapat saya lakukan? Saya bukan dokter,” kelit Bung Karno.
“Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada bapak, dan saya merasa sangat sakit. Tolonglah… tolonglah saya… tolooong….”
Bung Karno tidak bisa mengelak. Bung Karno juga tidak ingin seorang gadis mendatanginya dengan harapan sembuh, lantas harus pulang dengan kecewa. Setelah berkonsentrasi sejenak, Bung Karno membacakan surah pertama Alquran ditambah doa-doa. Esoknya, perempuan itu mens! Kabar itu pun lekas tersiar. Dan Bung Karno “sang dukun” makin terkenal pula.
Apa itu saja? Masih ada lagi. Kisah seorang tukang perah susu yang tengah dililit kesulitan uang. Untuk suatu keperluan, dia sangat membutuhkan uang. Celakanya, dia pun yakin, dengan mendatangi Bung Karno, persoalannya akan selesai. Apa yang terjadi?
Memang begitu adanya. Dia datang ke Bung Karno dan menyampaikan keluhannya, serta memohon penyelesaian.
Bung Karno lantas meminta si pemerah susu menunggu. Sedangkan ia masuk bilik, mengambil satu potong baju dan keluar rumah lewat pintu belakang. Ia menggadaikan bajunya, demi mendapatkan uang tiga rupiah enampuluh sen. Jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu. Problem pun terselesaikan …
Sumber: apakabardunia.com
Selasa, 10 September 2013
Kisah Mengharukan :: Kisah Nyata :: Anakku tidur selamanya…
“Tidurlah sayang buah hatiku, kutemani
engkau dalam dekapku. Bangunlah esok dengan senyummu, permata hati
pemghibur kalbu. Tidurlah sayang buah hatiku, doa ibu menemanimu. Semoga
Rahmat Allah menyertaimu. Bahagia dunia dan akhiratmu.”
Betapa teduh kalimat itu. Ungkapan sayang
yang mengalir sejuk dari bibir seorang wanita yang berpredikat sebagai
ibu. Harapan dan doa senantiasa mengalir dari lubuk hati yang paling
dalam bagi si buah hati yang telah dikandungnya selama sembilan bulan
lebih. Kebahagiaan buah hatinya adalah kebahagiaannya. Pun dengan
penderitaan sang buah hati adalah penderitaannya. Tapi bagaimana bila
sebuah musibah merenggut nyawa sang buah hati secara tiba-tiba? Inilah
lukisan ketabahan seorang ibu dalam menghadapi takdir-Nya.
Dan ini hanyalah salah satu dari puluhan ribu kisah para ibu lain yang pernah mengalami musibah serupa namun tak sama.
Teruntuk para ibu, semoga Allah membalas semua kesabaranmu.
Siang itu terasa nyaman, sebagaimana
biasanya, Halimah melepas kepergian Harun, Suaminya untuk bekerja di
sebuah toko kelontong yang letaknya tak begitu jauh dari rumah mereka,
yang jikalau ditempuh dengan bersepeda motor hanya dalam hitungan menit
saja.
Halimah, wanita shalihah yang berjilbab
ini hidup dalam kedamaian. Tepatnya setahun lalu pasangan in dikaruniai
buah hati laki-laki yang lucu dan sehat. Kehadiran buah hati ini dirasa
menambah lengkapnya kebahagiaan mereka. Mereka memberi nama Fais kepada
si kecil.
Beberapa saudara suaminya tinggal tak
jauh dari rumah mereka, hingga mereka bisa saling berbagi kebahagiaan
dan saling mengunjungi. Semua berjalan biasa tanpa liku perubahan yang
berarti, hingga tiba hari yang tak terlupa sepanjang hidup itu.
Selang satu jam setelah kepergian sang
suami, Halimah mendengar suara aneh dari arah laut. Suara itu lebih
menyerupai sebuah tiupan keras yang kian lama makin terdengar jelas.
Namun kira-kira sepuluh menit suara itu mereda dan hilang sama sekali.
Sepuluh menit kemudian suasana kembali tenang. Hanya sepuluh menit saja,
setelah itu terdengar lagi suara seperti tadi meski lebih pelan, namun
diiringi dengan gempa yang sangat terasa hingga menggetarkan seisi rumah
dan mengakibatkan kursi dan meja bergeser kesana kemari. Halimah
sungguh ketakutan. Faiz yang berada dalam gendongan menangis
menjerit-jerit. Sang bocah rupanya merasakan ada sesuatu yang tidak
beres tengah terjadi.
Halimah tak berani keluar rumah. Dari
jendela yang sedikit terkuak ia melihat pohon-pohon kecil bertumbangan
diterpa angin yang sangat kuat.
Hatinya mulai sedikit lega, karena
setengah jam berikutnya badai laut dan gempa mulai mereda. Suara yang
terdengar bergemuruh sedikit demi sedikit menghilang. Saat itulah
pintunya diketuk diiringi ucapan salam. Nampaknya suaminya pulang. Saat
pintu dibuka terlihat sosok suaminya yang berdiri dengan roman muka
penuh ketegangan.Halimah sendiri tidak kalah khawatir memandang wajah
sang suami. Melihat istri dan anaknya sehat-sehat saja, ia terlihat
sedikit tenang. Satu jam lebih Harun menemani istri dan anaknya. Sejenak
mereka menenangkan diri. Hanya sesekali Halimah membereskan
barang-barang rumah yang berantakan, sedangkan si kecil tetap dalam
dekapannya.
Dua jam berlalu. Kelihatannya badai sudah
benar-benar berhenti. Harun berpamitan kepada sang istri untuk kembali
ke toko kelontong untuk membereskan barang-barang yang belum sempat
ditata kembali. Halimah yang sudah mulai tenang tidak ragu sedikitpun,
toh untuk perjalanan pulang pergi dari toko hanya membutuhkan waktu
tidak lebih dari lima belas menit. Setelah suaminya pergi, Halimah
kembali beres-beres. Sang anak juga terlihat agak tenang meski matanya
kemerahan karena banyak menangis. Lima menit berselang. Getaran gempa
kembali terasa, namun gemuruh air laut terasa lebih kuat dari
sebelumnya. Halimah kembali panic. Ia melongok keluar dan terlihat
orang-orang di kampung itu berlarian ke luar rumah. Dari kejauhan
terlihat gumpalan asap hitam diiringi gelombang laut yang amat
mengerikan. Halimah segera mengenakan jilbabnya. Sedikit uang
simpanannya dan buntalan pakaian disiapkan, ia berpikir tentunya sang
suami sebentar lagi bakalan pulang. Benar saja, terdengar ketukan pintu
dan suara suaminya memberi salam dengan nada panik, karena ia sudah
menyaksikan keadaanluar rumah yang porak-poranda. Orang-orang terlihat
sibuk untuk mengungsi. Gelombang laut pun makin besar dan meninggi
hingga hampir mendekati area rumah mereka. Tak ada waktu lagi untuk ke
luar rumah. Harun lantas menyeret tangan istrinya ke bagian dalam rumah
mereka. Di belakang sana ada lubang empat persegi yang sudah disemen dan
ditutup dengan besi.
Dengan cepat ia mengajak istrinya ke
ruangan itu. Si kecil menjerit-jerit tidak karuan. Mereka sudah tak
sempat lagi mencari penyebab tangisan sang buah hati.
Bruak!!! Suara keras terdengar dari
balakang mereka dan disusul suara-suara benda lain. Harun mendahulukan
anak dan istrinya turun ke bawah. Dinginnya semen tidak lagi mereka
rasakan.
Badai itu tak hanya memporak-porandakan
barang-barang rumah. Tiang-tiang dan sebagian tembok rumah mereka yang
sebenarnya cukup kuat pun mulai ambruk, sehingga air laut tanpa bisa
dibendung lagi menerobos ke dalam. Tak ada jalan lain, pintu besi yang
memang sangat rapat itu segera ditutup. Sejenak kemudian hanya terdengar
suara gelombang hebat dan reruntuhan bangunan yang amat menyeramkan.
Jerit tangis anak mereka juga makin menjadi. Namun nafas mereka menjadi
sesak karena tidak adanya ventilasi. Tapi anehnya suara anak mereka
mulai berhenti sedikit demi sedikit. Hal ini justru membuat Halimah
ketakutan. Dengan ragu ia meminta suaminya untuk membuka tutup besi
tersebut. Harun sendiri bingung, bila pintu dibuka air bah akan masuk,
bahkan retuntuhan rumah jua bisa menimpa mereka. Benar-benar pilihan
yang sulit.
Lima belas menit kemudian badai mulai
mereda. Tangisan si kecil juga sudah berhenti sama sekali. Mereka
bertambah khawatir. Tanpa pikir panjang lagi pitu brankas mereka buka.
Awalnya terasa sangat sulit, mungkin tertutup reruntuhan bangunan. Walau
berhasil, mereka tetap saja bersusah payah untuk naik ke atas. Ditambah
bongkahan batu dan guyuran air hebat menghantam punggung mereka. Terasa
sakit memang. Namun hal ini tidak mereka rasakan.
Pemandangan di atas sungguh menggenaskan.
Sejauh mata memandang yang tampak hanya puing-puing reruntuhan dan
genangan air sampai sepaha. Hingga untuk berjalan saja mereka agak
kesulitan. Keadaan kampong mereka benar-benar telah hancur.
Sesaat kemudian, mereka baru teringat
dengan keadaan buah hati yang masih dalam gendongan. Wajah mungil itu
tampak pucat pasi, yang membuat dada mereka menjadi sesak adalah setelah
sekian lama mengalami kesulitan untuk bernafas, kini tak lagi terdengar
detak jantung maupun desah nafasnya. Harun memeriksa dengan seksama dan
ternyata buah hati mereka memang benar-benar telah pergi meninggalkan
dunia ini.
Suasana menjadi hening, Tak ada isak
tangis, meski cairan bening menetes membasahi pipi Halimah. Halimah
sadar, musibah ini adalah atas kehendak Allah ta’ala. Kematian anak
mereka merupakan garis takdir yang harus mereka jalani dan bukan karena
keteledoran mereka.
Badai “Tsunami” nama itu baru mereka ketahui setelah selamat dan bergabung dengan ribuan orang di kamp-kamp penampungan.
Saat para wartawan mewancarai mereka, terlihat ketenangan di roman muka mereka meski kesedihan tidak bisa disembunyikan.
Badai Tsunami memang telah merenggut
nyawa anak mereka yang semata wayang itu. Namun, sama sekali tak
merenggut keimanan di hati mereka.
Sungguh kesabaran Halimah sangat patut
dijadikan tauladan dalam hal ini. Dan semoga Allah ta’ala membalasnya
dengan berlimpah kebaikan dan rahmat. Amiin..
Sumber: http://aslibumiayu.wordpress.com
Rabu, 24 April 2013
Mengapa Bukan Ayah Saja Yang Meninggal ???
Ia
masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz di
kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat shubuh berjamaah.
Bagi sang bocah, Shubuh merupakan sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.
Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid. Lalu dgn cara bagaimana anak ini memulainya? Meminta ayah dan ibunya untuk membangunkannya dengan alarm?...tidak!
Tapi...tatkala ia membuka pintu rumahnya. Suasana
sangat gelap, pekat, sunyi, senyap...membuat nyalinya menjadi ciut.
Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian? Saat itu, sang bocah mendengar
langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul
tanah...Ya...ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya
“Rabbana hablanaa min azwaajina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama..”
Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com
Jumat, 19 April 2013
Jangan Benci Aku, Mama......
Dua
puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya
lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya
nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.
Saat
usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun
kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang
semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan
membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung
kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan
begitu saja.
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama caya Elik, Tante."
"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"
"Mama,
mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya sama Erik?
Ma...., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau
Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang
sama Mama, ......"
Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com
Sabtu, 13 April 2013
Keyakinan Seorang Sarjana Tanpa Gelar Bernama.........IBU
Semua
berawal karena keinginan adikku yang ketiga ... setelah menyelesaikan
sekolah menengah umum, ia berbisik pada ibu mau kuliah. ia tahu hal itu
akan ditentang oleh saudaranya yang lain. alasannya jelas, soal ekonomi,
adikku pun sangat mengerti keadaan itu. apa yang dipikirnya saat itu
tak ada yang tahu, keadaan yang sempit membuatnya sangat berhati-hati
mengungkapkan keinginannya.
Dan
ibu ... dia sungguh seorang sarjana tanpa titel, seorang sarjana
kehidupan. tanpa berpikir panjang, tanpa menimbang dengan lantang ia
berkata dengan logat bugisnya. yang artinya ..."kalau mau kuliah, kuliah
yang benar. rezeki itu urusannya Allah swt"
Ayahku
hanya seorang tukang ojek, subuh hari ia berangkat. maka setelah kami
berangkat sekolah ibu pun kepasar dengan berjalan kaki untuk belanja
tanpa uang sepeserpun. harapannya ayah sudah mendapat rezeki. dia
menunggu disudut pasar sambil terus mengawasi pangkalan ojek, terus
menunggu hingga ayah kembali kepangkalan ojek. begitulah kehidupan
mengawal kami.
Lagi-lagi
ibu ... membuatku terhenyak. ia dengan yakinnya meluluskan keinginan
adikku untuk kuliah. biaya kuliah yang bejibun membayang seperti hantu
dalam keluarga kami. sibungsu, kesayangannya sempat berkomentar pesimis,
tak digubrisnya. seperti pada ibu umumnya, pagi-pagi sekali ia
persiapkan kebutuhan adikku untuk berangkat keluar kota (karena dikota
kami belum ada tempat kuliah). kami ikut sibuk ... tapi sedikit aneh
dengan penampilan ibu. ia memakai pakaian terbaiknya, satu-satunya yang
ia miliki.
" ibu mau kemana?" tanyaku
" mau temani adekmu nanti dia gak tahu jalan, itu kota besar"
Rasanya
aku ingin tertawa terbahak saat itu, kulirik adikku yang hanya
tersenyum sambil menatap ibu denga raut yang sulit aku gambarkan. tapi
hari ini (setiap mengingat kejadian itu aku selalu menangis) itulah
nurani seorang ibu yang baru aku pahami hari ini.
Benar saja kata ibu ... rezeki itu urusan ALLAH.
Ujian
kehidupan kembali mengawal kehidupan kami, adikku tidak lolos UMPTN,
bahkan seleksi dibeberapa kampus. namun harapan itu datang saat ia
dimasukkan sebagai cadangan, lalu ditawarin sebuah kelas elit yang
bayarannya nauzubillah dua kali lipat. semua terdiam (kami tanpa
dikoordinir selalu duduk bersama untuk membicarakan sesuatu)
Ayah,
rautnya sudah bicara 'ini berat' walau ia tetap diam. kakakku terlihat
santai dan hanya bilang 'terserah', sibungsu tertunduk dalam, sangat
dalam. sikapnya menunjukkan 'coba pikir lagi, kasihan orangtua kita'.
dan aku ... demi melihat ibu, aku sudah menemukan keputusannya
"
oke ... kuliah" kataku dengan keras. esok adalah tanda tanya. rapat itu
berakhir tanpa perdebatan, adu urat, otot. itu soal biasa tapi hari ini
aku sadari itu luar biasa.
Hidup
makin berat, tapi ibu sedikitpun tak pernah mengeluh (sumpah demi
ALLAH) hanya fisiknya yang berkata terlalu jujur sangat jujur. tapi kami
tak sedikitpun memperhatikannya, kami sibuk dengan keinginan kami dan
selalu ibu sibuk untuk mewujudkannya. ibu adalah orang yang tak pernah
menyembunyikan uang sepeserpun dari kami. tidak ada maka dia akan bilang
tidak ada, jika ada maka ia pun akan menghabiskan untuk kami.
Meski
sulit kahidupan kami terus bergulir, setiap tahapan bisa kami lalui,
kami tetap bersama. dalam hal materi kami memang kesulitan tapi rezeki
datang dalam bentuk lain dan selalu tak terduga. sibungsu yang sekolah
di SMU elit (itu juga karena perjuangan ibu) lulus dengan nilai
memuaskan masuk dalam 10 besar yang terbaik. ia pun dikirim ke Bali
untuk bekerja, karena ia mengambil jurusan NPL. padahal kamipun
menawarkan ia kuliah meski akhirnya tetap memilih untuk pergi ke bali
selama 3 tahun. dari saat itu beban materi sedikit terobati, ia mau
membantu membiayai kuliah sang kakak.
Lalu
ibu lagi-lagi berada digarda terdepan, saat ayah pasrah tanpa berani
memutuskan apa-apa. kami akhirnya pindah kekampung halaman, ibu
berkeras. rumah kami hendak disewakan untuk menutupi biaya kuliah
adikku. kakak yang seorang guru tinggal diperumahan yang disediakan oleh
yayasan. ibu masih punya rumah dikampung, rumah tua yang nyaris roboh.
aku awalnya sangat menentang, demi membayangkan tinggal disebuah
perkampungan nelayan. tapi ibu berkeras, demi adikku.
Sungguh
saat itu aku tak mau menerima.dikota ini, segalanya ada meski tak bisa
terbeli. hanya saja kondisi dikota ini jauh labih baik. aku malah
berpikir pindah ke kampung adalah sebuah kemunduran. karena aku anak
gadis dan belum menikah maka aku wajib ikut. kehidupan setelahnya tak
lantas mudah karena uang yang ada selalu lari pada adikku yang kuliah,
perlahan aku mulai menerima keadaan semua berkat ibu yang tak pernah
mengeluh, ia kerjakan semua termasuk berkebun yang masya ALLAH beratnya
minta ampun sampai membuat ayahku jatuh sakit dan orang-orang berpikiran
ia akan segera meninggal.
Dan
lagi ... ibu ... bahkan disaat seperti itu masih berkata 'ini rezeki
ALLAH, yang sabar'. dan benar rezeki itu punya ALLAH. ayah pulih dalam
kurun waktu 6 bulan. (sampai hari ini ia tetap segar bugar bahkan
perutnya membuncit).
Dua
tahun berlalu ... adikku akan diwisuda. saat itu pertama kali aku lihat
ibu menabung. belakangan baru aku tahu uang itu ia pakai untuk membeli
baju, dan itu baju termahal yang pernah ia beli 300.000,-. rumah kami
ambil kembali dan meminta kakak menempatinya. rumah terbaik bagi kami
karena rumah itu tempat kami menikmati kepayahan hidup, meski tanpa air
mata karena ibu, semua karena ibu. semua terlewati dengan mudah.
Hari
membanggakan itu datang, meski tak masuk dalam jajaran mahasiswa
teladan. ibu tetap sangat bangga. berdiri diantara para orang tua
mahasiswa lain, ia tampak sangat megah. matanya tak lepas memandang
adikku yang duduk ditengah kerubungan mahasiswa lain, dengan seragam
yang sama tapi ibu tahu itu anaknya dan terus memandangnya. kala nama
adikku dipanggil ia berdiri dengan tubuh bergetar matanya berkaca-kaca
tapi terus ditahan, sampai akhirnya setitik air jatuh dangan indah
dipipinya. aku tak lagi memperhatikan apa yang terjadi didepan, aku
hanya memperhatikan ibu. aku tidak bangga dengan apa yang dicapai adikku
... tapi aku sangat bangga dengan pencapaian ibuku.
Ibu
seorang yatim piatu sejak usia 3 bulan, tak pernah menginjak bangku
sekolah tak mengerti huruf. tapi dia tahu "Allah itu Maha Pintar" itu
yang ia pahami dan yakini sampai hari ini. dan hari ini aku melihat
keyakinan itu dari ibu.
Aku dedikasikan ini untuk ibu ... "ALLAH memberiku hal terbaik dalam hidupku yaitu dirimu...IBU"
Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com
Jumat, 05 April 2013
Sepenggal Kisah Seorang Siswi PALESTINA
Ini
adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di
Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara
keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini
adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Pemeriksaan
dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah
seperti hand phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat
cinta serta yang lainnya.
Keamanan
saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi
menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa
menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya diri. Keluar dari
satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di
depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-buku, pena dan
peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai
di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di situlah bermula kejadian.
Saat
itu di pojok ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang
kepada tim pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata nanar, sedang
tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap
giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya.
Beberapa
saat kemudian tim pemeriksa sampai pada siswi tersebut hendak melakukan
pemeriksaan. Tapi sang siswi tersebut justru semakin erat memegang
tasnya. Seakan dia mengatakan, tolong jangan buka tas saya, pak.
Silahkan
kau buka tasnya anakku, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi
itu tidak bergeming. Dilihatnya wanita yang ada di depannya dalam diam
sambil mendekap tas ke dadanya. Barikan tasmu, wahai anakku, kata
pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba dia berteriak keras:
JANGAAAN. Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya dan merekapun
berkumpul di sekitar siswi tersebut.
Saat
itu sedang terjadi adegan perebutan tas yang masih tetap berada dalam
blockade pemiliknya. Semua siswi dalam ruangan itu terhenyak dan semua
mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri sembari tangannya
diletakan di mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam.
Setelah
dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang
siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang
kali membutuhkan waktu lama …
Air
mata sang Siswi bercucuran deras kala dirinya dibawa ke sebuah kantor.
Matanya yang sayu memandang lemah ke arah semua yang hadir di ruangan
itu, seolah takut karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di
hadapan orang banyak, rahasia yang sekian lama dijalaninya.
Ketua
tim pemeriksa memerintahkannya duduk dan menenangkan situasi. Tiba tiba
apa yang ditakutkannya pun terjadi saat sang kepala sekolah tiba-tiba
bertanya kepadanya "apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku
…?
Saat-saat
yang tak diinginkannya itu pun terjadi, dengan teramat berat dia
membuka tasnya. Tahukah pembaca apakah gerangan yang ada di dalamnya???
Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya,
pembaca. Tidak ada. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera,
gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di
dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah sesuatu yang ada di
dalam tasnya, sesuatu yang ia sembunyikan.
Diiringi tetes demi tetes air matanya yang dari tadi ia pertahankan, keluarlah baris demi baris kalimat dari mulutnya.
“Maafkan
saya bu, ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi, yang masih
tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya
kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulang untuk
keluarga saya di rumah untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar
mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan
malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki apa-apa. Kami bukan
siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya tentang kami. Oleh sebab
itu saya bersikukuh untuk tidak membuka tas tadi, agar saya tidak malu
di hadapan teman-teman di ruangan tadi. sekali lagi maafkan saya”.
Sambil menarik napas panjang, sesekali terdengar isak tangisnya, tangis
yang tak seorangpun dapat memahami artinya.
Tiba-tiba
suasana menjadi hening. Semua mata yang menyaksikan dan mendengar
peristiwa itu mencucurkan air mata sebagai tanda penyesalan atas
perlakukan buruk pada siswi tersebut.
----------Selesai------------
Diatas
adalah satu dari sekian banyak peristiwa kemanusiaan yang memilukan di
Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita.
Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka.
Doa dan uluran tangan kita, setidaknya bisa sedikit meringankan
penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang
hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis
Israel.
Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com
Kamis, 28 Maret 2013
Bu Guru, Bolehkah Aku Tetap Memakai Jilbabku Saat di Foto?
SUATU kali aku dalam perjalanan pulang kerja, istriku menelpon. Padahal aku sudah akan tidur di bus. Aku bekerja di luar kota dan hampir setiap hari pulang-pergi memakai bus antarkota.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Aku tadi sangat terharu,” ujarnya terbata-bata, “aku hampir menangis…”
Aku tiba-tiba mendapat firasat yang tidak enak. “Ya, ada apa gerangan?”
“Anak kita, si nomor satu…”
Aku segera mengingat wajah anakku nomor satu yang perempuan. Ia saat ini duduk di kelas 1 SD, baru masuk hanya beberapa bulan lalu. “Kenapa dengan dia?”
“Aku tadi merasa sangat haru dan sekaligus bangga….”
“Kamu berbelit-belit. Sakitkah dia?”
Tampaknya dia menggelengkan kepala. Aku merasakannya. “Tidak. Tadi di sekolahnya, ada pemotretan untuk buku raportnya…”
Aku menarik nafas lega. Setikaknya bukan sesuatu yang buruk yang akan kudengar dari mulut istriku selanjutnya, aku sudah cukup yakin. “Terus….?”
“Ia menceritakan kepadaku bahwa tadi ketika pemotretan akan dimulai, ibu guru kelasnya berkata bahwa semua murid perempuan harus membuka jilbabnya ketika difoto. Supaya tidak repot, begitu katanya…”
“Lantas?”
Istriku menarik nafas sejenak. “Lihatlah, aku masih tidak bisa menahan tangis karena haru. Kemudian ia berkata kepada gurunya… ‘Ibu guru, bolehkah aku tetap memakai jilbabku saja kalau difoto?’”
Aku tidak berkata apa-apa. Hanya mendengarkan dengan saksama.
Istriku melanjutkan. “Kemudian, ibu gurunya berkata, ‘Ya , silakan kalau kamu mau….’ Ia menjadi satu-satunya anak perempuan di kelasnya yang difoto dengan jilbabnya, begitu menurut penuturan bu gurunya tadi. Aku langsung terharu.
Aku sambut dia sepulang sekolah dan kukatakan kepadanya, ‘Nak, kamu boleh tidak mendapatkan nilai 100 dalam setiap pelajaran kamu. Namun apa yang sudah kamu lakukan sekarang, itu membuat Bunda sudah bangga akan kamu.’ Aku langsung memeluk dia. Sambil menangis.”
Aku mulai paham. “Ya…” ujarku tapi tidak bisa mengatakan yang lainnya.
“Kemudian aku bertanya kepadanya, ‘Kenapa kamu tidak mau difoto tanpa jilbab kamu?’. Ia menjawab, ‘Aku malu, Bunda.’”
Telepon kemudian di tutup. Aku melihat keluar jendela bus yang melaju cepat. Aku mengingat kembali telepon istriku. Aku mengingat anakku yang nomor satu, si tujuh tahun itu. Aku tersenyum dan bergetar. Ia sudah beranjak menyebalkan dalam banyak hal. Tapi aku tidak pernah berpikir ia bisa seperti itu;............ menolak difoto di ruangan publik tanpa jilbabnya.
Sumber: situs-lakalaka.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)






