Tampilkan postingan dengan label Dilarang Menangis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dilarang Menangis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

KISAH NYATA : TERNYATA SUAMIKU TAK PERNAH MENCINTAIKU [Sedih gan :(]

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak-anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.

Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona.

Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam sehingga jarang punya teman yang akrab.

5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat-ingat 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x.

Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? Tidak mau makan juga? Uhh dasar anak nakal, sini piringnya, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah habis di tangannya. Dan aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!”

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.

Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.
Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu.

Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku.

Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton.

Kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu-lucu.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak di hatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya.

Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.

Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu.

Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

Yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.

Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku.

Dia tidak pernah bahagia bersamaku.

Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku.

Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku.

Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya.

Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku.

Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

———-

Setahun kemudian

Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang.

Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

“Mario, suamiku… Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan.

Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.

Ternyata aku keliru, aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”

Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu

Rima

Di surat yang lain,

“Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha.”

Di surat yang kesekian,

“Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.

Di surat terakhir, pagi ini…

“Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi di hatimu?

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan di wajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku.

Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya.

Mama memarkir motornya di seberang jalan, ketika mama menyeberang jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi aku tidak sanggup melihatnya terlontar tante. Aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.”

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar. Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor ke mana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku.

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Sumber: yantekbansel.wordpress.com 

Senin, 18 November 2013

inspirasi :: Ketika Bung Karno Terpaksa Dijadikan "Dukun"

Sepenggal kisah, manakala Bung Karno baru saja tiba di Bengkulu, usai menjalani pembuangan di Pulau Bunga, Ende. Di daerah “basis Islam” dengan alam yang dikelilingi pegunungan Bukit Barisan, Bung Karno awalnya tidak memiliki banyak sahabat.

Setiap orang yang berkunjung ke kediamannya, esoknya langsung dipanggil kantor polisi. Dicatat, ditanya apa-apa saja yang dibicarakan, dan tentu saja dengan ancaman untuk tidak mendatangi Sukarno.

Satu per satu, masyarakat Bengkulu mulai ketakutan untuk berdekat-dekat dengan Sukarno. Namun, magnit Sukarno begitu kuat, sehingga selalu saja ada satu-dua orang yang nekat mengunjunginya, meski mereka tahu akibatnya.

Bahkan ada salah seorang guru yang begitu rajin mendatangi Sukarno untuk sekadar ngobrol. Ia tidak pernah jera meski berkali-kali harus berurusan dengan polisi Belanda.

Lambat-laun, satu per satu, masyarakat mulai lebih berani mendekati Bung Karno. Terlebih ketika organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah sudah terang-terangan berani meminta jasa Bung Karno untuk menjadi tenaga pengajar. Pengajar agama! Dan dilarang bicara politik.

Bung Karno girang bukan kepalang. Ia tidak harus bicara politik kepada para murid. Ia cukup menceritakan kisah-kisah heroik Nabi Besar Muhammad SAW, sambil menanamkan benih-benih nasionalisme. Benih-benih cinta tanah air.

Waktu terus bergulir, dan Bung Karno pun menjelma menjadi sosok yang didudukkan pada status “orang cerdik-pandai”. Bahkan, sejumlah warga memperlakukannya laksana “dukun”.

Ia tidak hanya dimintai nasihat spiritual, tetapi dimintai juga mengobati sejumlah warga yang terserang penyakit. Satu di antaranya, ia kedatangan seorang gadis sambil menangis meraung-raung meminta tolong Bung Karno, dengan keluhan: Sudah tujuh bulan tidak bisa menstruasi!

“Apa yang dapat saya lakukan? Saya bukan dokter,” kelit Bung Karno.

“Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada bapak, dan saya merasa sangat sakit. Tolonglah… tolonglah saya… tolooong….”

Bung Karno tidak bisa mengelak. Bung Karno juga tidak ingin seorang gadis mendatanginya dengan harapan sembuh, lantas harus pulang dengan kecewa. Setelah berkonsentrasi sejenak, Bung Karno membacakan surah pertama Alquran ditambah doa-doa. Esoknya, perempuan itu mens! Kabar itu pun lekas tersiar. Dan Bung Karno “sang dukun” makin terkenal pula.

Apa itu saja? Masih ada lagi. Kisah seorang tukang perah susu yang tengah dililit kesulitan uang. Untuk suatu keperluan, dia sangat membutuhkan uang. Celakanya, dia pun yakin, dengan mendatangi Bung Karno, persoalannya akan selesai. Apa yang terjadi?

Memang begitu adanya. Dia datang ke Bung Karno dan menyampaikan keluhannya, serta memohon penyelesaian.

Bung Karno lantas meminta si pemerah susu menunggu. Sedangkan ia masuk bilik, mengambil satu potong baju dan keluar rumah lewat pintu belakang. Ia menggadaikan bajunya, demi mendapatkan uang tiga rupiah enampuluh sen. Jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu. Problem pun terselesaikan …

Sumber: apakabardunia.com





 

Selasa, 10 September 2013

Kisah Mengharukan :: Kisah Nyata :: Anakku tidur selamanya…

“Tidurlah sayang buah hatiku, kutemani engkau dalam dekapku. Bangunlah esok dengan senyummu, permata hati pemghibur kalbu. Tidurlah sayang buah hatiku, doa ibu menemanimu. Semoga Rahmat Allah menyertaimu. Bahagia dunia dan akhiratmu.”

Betapa teduh kalimat itu. Ungkapan sayang yang mengalir sejuk dari bibir seorang wanita yang berpredikat sebagai ibu. Harapan dan doa senantiasa mengalir dari lubuk hati yang paling dalam bagi si buah hati yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih. Kebahagiaan buah hatinya adalah kebahagiaannya. Pun dengan penderitaan sang buah hati adalah penderitaannya. Tapi bagaimana bila sebuah musibah merenggut nyawa sang buah hati secara tiba-tiba? Inilah lukisan ketabahan seorang ibu dalam menghadapi takdir-Nya.

Dan ini hanyalah salah satu dari puluhan ribu kisah para ibu lain yang pernah mengalami musibah serupa namun tak sama.

Teruntuk para ibu, semoga Allah membalas semua kesabaranmu.

Siang itu terasa nyaman, sebagaimana biasanya, Halimah melepas kepergian Harun, Suaminya untuk bekerja di sebuah toko kelontong yang letaknya tak begitu jauh dari rumah mereka, yang jikalau ditempuh dengan bersepeda motor hanya dalam hitungan menit saja.

Halimah, wanita shalihah yang berjilbab ini hidup dalam kedamaian. Tepatnya setahun lalu pasangan in dikaruniai buah hati laki-laki yang lucu dan sehat. Kehadiran buah hati ini dirasa menambah lengkapnya kebahagiaan mereka. Mereka memberi nama Fais kepada si kecil.

Beberapa saudara suaminya tinggal tak jauh dari rumah mereka, hingga mereka bisa saling berbagi kebahagiaan dan saling mengunjungi. Semua berjalan biasa tanpa liku perubahan yang berarti, hingga tiba hari yang tak terlupa sepanjang hidup itu.

Selang satu jam setelah kepergian sang suami, Halimah mendengar suara aneh dari arah laut. Suara itu lebih menyerupai sebuah tiupan keras yang kian lama makin terdengar jelas. Namun kira-kira sepuluh menit suara itu mereda dan hilang sama sekali. Sepuluh menit kemudian suasana kembali tenang. Hanya sepuluh menit saja, setelah itu terdengar lagi suara seperti tadi meski lebih pelan, namun diiringi dengan gempa yang sangat terasa hingga menggetarkan seisi rumah dan mengakibatkan kursi dan meja bergeser kesana kemari. Halimah sungguh ketakutan. Faiz yang berada dalam gendongan menangis menjerit-jerit. Sang bocah rupanya merasakan ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.

Halimah tak berani keluar rumah. Dari jendela yang sedikit terkuak ia melihat pohon-pohon kecil bertumbangan diterpa angin yang sangat kuat.

Hatinya mulai sedikit lega, karena setengah jam berikutnya badai laut dan gempa mulai mereda. Suara yang terdengar bergemuruh sedikit demi sedikit menghilang. Saat itulah pintunya diketuk diiringi ucapan salam. Nampaknya suaminya pulang. Saat pintu dibuka terlihat sosok suaminya yang berdiri dengan roman muka penuh ketegangan.Halimah sendiri tidak kalah khawatir memandang wajah sang suami. Melihat istri dan anaknya sehat-sehat saja, ia terlihat sedikit tenang. Satu jam lebih Harun menemani istri dan anaknya. Sejenak mereka menenangkan diri. Hanya sesekali Halimah membereskan barang-barang rumah yang berantakan, sedangkan si kecil tetap dalam dekapannya.

Dua jam berlalu. Kelihatannya badai sudah benar-benar berhenti. Harun berpamitan kepada sang istri untuk kembali ke toko kelontong untuk membereskan barang-barang yang belum sempat ditata kembali. Halimah yang sudah mulai tenang tidak ragu sedikitpun, toh untuk perjalanan pulang pergi dari toko hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima belas menit. Setelah suaminya pergi, Halimah kembali beres-beres. Sang anak juga terlihat agak tenang meski matanya kemerahan karena banyak menangis. Lima menit berselang. Getaran gempa kembali terasa, namun gemuruh air laut terasa lebih kuat dari sebelumnya. Halimah kembali panic. Ia melongok keluar dan terlihat orang-orang di kampung itu berlarian ke luar rumah. Dari kejauhan terlihat gumpalan asap hitam diiringi gelombang laut yang amat mengerikan. Halimah segera mengenakan jilbabnya. Sedikit uang simpanannya dan buntalan pakaian disiapkan, ia berpikir tentunya sang suami sebentar lagi bakalan pulang. Benar saja, terdengar ketukan pintu dan suara suaminya memberi salam dengan nada panik, karena ia sudah menyaksikan keadaanluar rumah yang porak-poranda. Orang-orang terlihat sibuk untuk mengungsi. Gelombang laut pun makin besar dan meninggi hingga hampir mendekati area rumah mereka. Tak ada waktu lagi untuk ke luar rumah. Harun lantas menyeret tangan istrinya ke bagian dalam rumah mereka. Di belakang sana ada lubang empat persegi yang sudah disemen dan ditutup dengan besi.

Dengan cepat ia mengajak istrinya ke ruangan itu. Si kecil menjerit-jerit tidak karuan. Mereka sudah tak sempat lagi mencari penyebab tangisan sang buah hati.

Bruak!!! Suara keras terdengar dari balakang mereka dan disusul suara-suara benda lain. Harun mendahulukan anak dan istrinya turun ke bawah. Dinginnya semen tidak lagi mereka rasakan.

Badai itu tak hanya memporak-porandakan barang-barang rumah. Tiang-tiang dan sebagian tembok rumah mereka yang sebenarnya cukup kuat pun mulai ambruk, sehingga air laut tanpa bisa dibendung lagi menerobos ke dalam. Tak ada jalan lain, pintu besi yang memang sangat rapat itu segera ditutup. Sejenak kemudian hanya terdengar suara gelombang hebat dan reruntuhan bangunan yang amat menyeramkan. Jerit tangis anak mereka juga makin menjadi. Namun nafas mereka menjadi sesak karena tidak adanya ventilasi. Tapi anehnya suara anak mereka mulai berhenti sedikit demi sedikit. Hal ini justru membuat Halimah ketakutan. Dengan ragu ia meminta suaminya untuk membuka tutup besi tersebut. Harun sendiri bingung, bila pintu dibuka air bah akan masuk, bahkan retuntuhan rumah jua bisa menimpa mereka. Benar-benar pilihan yang sulit.

Lima belas menit kemudian badai mulai mereda. Tangisan si kecil juga sudah berhenti sama sekali. Mereka bertambah khawatir. Tanpa pikir panjang lagi pitu brankas mereka buka. Awalnya terasa sangat sulit, mungkin tertutup reruntuhan bangunan. Walau berhasil, mereka tetap saja bersusah payah untuk naik ke atas. Ditambah bongkahan batu dan guyuran air hebat menghantam punggung mereka. Terasa sakit memang. Namun hal ini tidak mereka rasakan.

Pemandangan di atas sungguh menggenaskan. Sejauh mata memandang yang tampak hanya puing-puing reruntuhan dan genangan air sampai sepaha. Hingga untuk berjalan saja mereka agak kesulitan. Keadaan kampong mereka benar-benar telah hancur.

Sesaat kemudian, mereka baru teringat dengan keadaan buah hati yang masih dalam gendongan. Wajah mungil itu tampak pucat pasi, yang membuat dada mereka menjadi sesak adalah setelah sekian lama mengalami kesulitan untuk bernafas, kini tak lagi terdengar detak jantung maupun desah nafasnya. Harun memeriksa dengan seksama dan ternyata buah hati mereka memang benar-benar telah pergi meninggalkan dunia ini.

Suasana menjadi hening, Tak ada isak tangis, meski cairan bening menetes membasahi pipi Halimah. Halimah sadar, musibah ini adalah atas kehendak Allah ta’ala. Kematian anak mereka merupakan garis takdir yang harus mereka jalani dan bukan karena keteledoran mereka.

Badai “Tsunami” nama itu baru mereka ketahui setelah selamat dan bergabung dengan ribuan orang di kamp-kamp penampungan.

Saat para wartawan mewancarai mereka, terlihat ketenangan di roman muka mereka meski kesedihan tidak bisa disembunyikan.

Badai Tsunami memang telah merenggut nyawa anak mereka yang semata wayang itu. Namun, sama sekali tak merenggut keimanan di hati mereka.

Sungguh kesabaran Halimah sangat patut dijadikan tauladan dalam hal ini. Dan semoga Allah ta’ala membalasnya dengan berlimpah kebaikan dan rahmat. Amiin..

Sumber: http://aslibumiayu.wordpress.com

Rabu, 24 April 2013

Mengapa Bukan Ayah Saja Yang Meninggal ???

Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat shubuh berjamaah. Bagi sang bocah, Shubuh merupakan sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.

Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid. Lalu dgn cara bagaimana anak ini memulainya? Meminta ayah dan ibunya untuk membangunkannya dengan alarm?...tidak!

Ternyata Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman sang anak begadang, hingga tatkala adzan berkumandang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.



Tapi...tatkala ia membuka pintu rumahnya. Suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap...membuat nyalinya menjadi ciut. Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian? Saat itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah...Ya...ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya

Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia pun mengikuti di belakangnya tanpa sepengetahuan sang kakek. Begitupula cara ia pulang dari masjid. Bocah itu menjadikan itu sebagai kebiasaan. Begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek2. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah


Tak ada orang tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain. Dan ini dilakukan sang bocah agar bisa begadang malam. Hingga suatu hari, Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal dunia


Sontak, si bocah menangis sesenggukan. Sang ayah demikian heran...”Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu...bukan siapa-siapa kamu!”


Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru bertambah deras tangisnya sembari berkata, “kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”


“A’udzu billah..., kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah kaget.


Si bocah berkata, “Mengapa tidak ayah saja yang meninggal, ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. Sementara kakek itu, meskipun sudah tua....setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat Shubuh berjamaah.”


ALLAHU AKBAR! Lidah sang ayah berubah kelu, tenggorokannya tercekat dalam, matanya berkaca kaca, hingga lambat laun mengalirlah air matanya deras tak terbendung.

“Rabbana hablanaa min azwaajina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama..”

Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com

Jumat, 19 April 2013

Jangan Benci Aku, Mama......

Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.


Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.



Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.


Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.......... telah berlalu sejak kejadian itu.


Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.


Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!"


Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,

"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama caya Elik, Tante."
"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"


Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.


Ya, sepertinya saya memang harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik...sabar ya nak...."


Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. "Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.


Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik..... Erik......


Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.


Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya......


Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu... Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba - tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.


Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"


Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?"


Tiba - tiba Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, 'Mamaaa..., Mamaaa!'


Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu....."


Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya sama Erik? Ma...., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ......"


Aku menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!" Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.


"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...


Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!"


Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi



Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com

Sabtu, 13 April 2013

Keyakinan Seorang Sarjana Tanpa Gelar Bernama.........IBU

Semua berawal karena keinginan adikku yang ketiga ... setelah menyelesaikan sekolah menengah umum, ia berbisik pada ibu mau kuliah. ia tahu hal itu akan ditentang oleh saudaranya yang lain. alasannya jelas, soal ekonomi, adikku pun sangat mengerti keadaan itu. apa yang dipikirnya saat itu tak ada yang tahu, keadaan yang sempit membuatnya sangat berhati-hati mengungkapkan keinginannya.

Dan ibu ... dia sungguh seorang sarjana tanpa titel, seorang sarjana kehidupan. tanpa berpikir panjang, tanpa menimbang dengan lantang ia berkata dengan logat bugisnya. yang artinya ..."kalau mau kuliah, kuliah yang benar. rezeki itu urusannya Allah swt"

Ayahku hanya seorang tukang ojek, subuh hari ia berangkat. maka setelah kami berangkat sekolah ibu pun kepasar dengan berjalan kaki untuk belanja tanpa uang sepeserpun. harapannya ayah sudah mendapat rezeki. dia menunggu disudut pasar sambil terus mengawasi pangkalan ojek, terus menunggu hingga ayah kembali kepangkalan ojek. begitulah kehidupan mengawal kami.

Lagi-lagi ibu ... membuatku terhenyak. ia dengan yakinnya meluluskan keinginan adikku untuk kuliah. biaya kuliah yang bejibun membayang seperti hantu dalam keluarga kami. sibungsu, kesayangannya sempat berkomentar pesimis, tak digubrisnya. seperti pada ibu umumnya, pagi-pagi sekali ia persiapkan kebutuhan adikku untuk berangkat keluar kota (karena dikota kami belum ada tempat kuliah). kami ikut sibuk ... tapi sedikit aneh dengan penampilan ibu. ia memakai pakaian terbaiknya, satu-satunya yang ia miliki.

" ibu mau kemana?" tanyaku
" mau temani adekmu nanti dia gak tahu jalan, itu kota besar"

Rasanya aku ingin tertawa terbahak saat itu, kulirik adikku yang hanya tersenyum sambil menatap ibu denga raut yang sulit aku gambarkan. tapi hari ini (setiap mengingat kejadian itu aku selalu menangis) itulah nurani seorang ibu yang baru aku pahami hari ini.

Benar saja kata ibu ... rezeki itu urusan ALLAH.
Ujian kehidupan kembali mengawal kehidupan kami, adikku tidak lolos UMPTN, bahkan seleksi dibeberapa kampus. namun harapan itu datang saat ia dimasukkan sebagai cadangan, lalu ditawarin sebuah kelas elit yang bayarannya nauzubillah dua kali lipat. semua terdiam (kami tanpa dikoordinir selalu duduk bersama untuk membicarakan sesuatu)

Ayah, rautnya sudah bicara 'ini berat' walau ia tetap diam. kakakku terlihat santai dan hanya bilang 'terserah', sibungsu tertunduk dalam, sangat dalam. sikapnya menunjukkan 'coba pikir lagi, kasihan orangtua kita'. dan aku ... demi melihat ibu, aku sudah menemukan keputusannya

" oke ... kuliah" kataku dengan keras. esok adalah tanda tanya. rapat itu berakhir tanpa perdebatan, adu urat, otot. itu soal biasa tapi hari ini aku sadari itu luar biasa.

Hidup makin berat, tapi ibu sedikitpun tak pernah mengeluh (sumpah demi ALLAH) hanya fisiknya yang berkata terlalu jujur sangat jujur. tapi kami tak sedikitpun memperhatikannya, kami sibuk dengan keinginan kami dan selalu ibu sibuk untuk mewujudkannya. ibu adalah orang yang tak pernah menyembunyikan uang sepeserpun dari kami. tidak ada maka dia akan bilang tidak ada, jika ada maka ia pun akan menghabiskan untuk kami.

Meski sulit kahidupan kami terus bergulir, setiap tahapan bisa kami lalui, kami tetap bersama. dalam hal materi kami memang kesulitan tapi rezeki datang dalam bentuk lain dan selalu tak terduga. sibungsu yang sekolah di SMU elit (itu juga karena perjuangan ibu) lulus dengan nilai memuaskan masuk dalam 10 besar yang terbaik. ia pun dikirim ke Bali untuk bekerja, karena ia mengambil jurusan NPL. padahal kamipun menawarkan ia kuliah meski akhirnya tetap memilih untuk pergi ke bali selama 3 tahun. dari saat itu beban materi sedikit terobati, ia mau membantu membiayai kuliah sang kakak.

Lalu ibu lagi-lagi berada digarda terdepan, saat ayah pasrah tanpa berani memutuskan apa-apa. kami akhirnya pindah kekampung halaman, ibu berkeras. rumah kami hendak disewakan untuk menutupi biaya kuliah adikku. kakak yang seorang guru tinggal diperumahan yang disediakan oleh yayasan. ibu masih punya rumah dikampung, rumah tua yang nyaris roboh. aku awalnya sangat menentang, demi membayangkan tinggal disebuah perkampungan nelayan. tapi ibu berkeras, demi adikku.

Sungguh saat itu aku tak mau menerima.dikota ini, segalanya ada meski tak bisa terbeli. hanya saja kondisi dikota ini jauh labih baik. aku malah berpikir pindah ke kampung adalah sebuah kemunduran. karena aku anak gadis dan belum menikah maka aku wajib ikut. kehidupan setelahnya tak lantas mudah karena uang yang ada selalu lari pada adikku yang kuliah, perlahan aku mulai menerima keadaan semua berkat ibu yang tak pernah mengeluh, ia kerjakan semua termasuk berkebun yang masya ALLAH beratnya minta ampun sampai membuat ayahku jatuh sakit dan orang-orang berpikiran ia akan segera meninggal.

Dan lagi ... ibu ... bahkan disaat seperti itu masih berkata 'ini rezeki ALLAH, yang sabar'. dan benar rezeki itu punya ALLAH. ayah pulih dalam kurun waktu 6 bulan. (sampai hari ini ia tetap segar bugar bahkan perutnya membuncit).

Dua tahun berlalu ... adikku akan diwisuda. saat itu pertama kali aku lihat ibu menabung. belakangan baru aku tahu uang itu ia pakai untuk membeli baju, dan itu baju termahal yang pernah ia beli 300.000,-. rumah kami ambil kembali dan meminta kakak menempatinya. rumah terbaik bagi kami karena rumah itu tempat kami menikmati kepayahan hidup, meski tanpa air mata karena ibu, semua karena ibu. semua terlewati dengan mudah.

Hari membanggakan itu datang, meski tak masuk dalam jajaran mahasiswa teladan. ibu tetap sangat bangga. berdiri diantara para orang tua mahasiswa lain, ia tampak sangat megah. matanya tak lepas memandang adikku yang duduk ditengah kerubungan mahasiswa lain, dengan seragam yang sama tapi ibu tahu itu anaknya dan terus memandangnya. kala nama adikku dipanggil ia berdiri dengan tubuh bergetar matanya berkaca-kaca tapi terus ditahan, sampai akhirnya setitik air jatuh dangan indah dipipinya. aku tak lagi memperhatikan apa yang terjadi didepan, aku hanya memperhatikan ibu. aku tidak bangga dengan apa yang dicapai adikku ... tapi aku sangat bangga dengan pencapaian ibuku.

Ibu seorang yatim piatu sejak usia 3 bulan, tak pernah menginjak bangku sekolah tak mengerti huruf. tapi dia tahu "Allah itu Maha Pintar" itu yang ia pahami dan yakini sampai hari ini. dan hari ini aku melihat keyakinan itu dari ibu.

Aku dedikasikan ini untuk ibu ... "ALLAH memberiku hal terbaik dalam hidupku yaitu dirimu...IBU"

Sumber : http://situs-lakalaka.blogspot.com

Jumat, 05 April 2013

Sepenggal Kisah Seorang Siswi PALESTINA

Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti hand phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.

Keamanan saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya diri. Keluar dari satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di situlah bermula kejadian.

Saat itu di pojok ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata nanar, sedang tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya.

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa sampai pada siswi tersebut hendak melakukan pemeriksaan. Tapi sang siswi tersebut justru semakin erat memegang tasnya. Seakan dia mengatakan, tolong jangan buka tas saya, pak.

Silahkan kau buka tasnya anakku, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak bergeming. Dilihatnya wanita yang ada di depannya dalam diam sambil mendekap tas ke dadanya. Barikan tasmu, wahai anakku, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba dia berteriak keras: JANGAAAN. Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya dan merekapun berkumpul di sekitar siswi tersebut.

Saat itu sedang terjadi adegan perebutan tas yang masih tetap berada dalam blockade pemiliknya. Semua siswi dalam ruangan itu terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri sembari tangannya diletakan di mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam.


Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama …

Air mata sang Siswi bercucuran deras kala dirinya dibawa ke sebuah kantor. Matanya yang sayu memandang lemah ke arah semua yang hadir di ruangan itu, seolah takut karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak, rahasia yang sekian lama dijalaninya.

Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk dan menenangkan situasi. Tiba tiba apa yang ditakutkannya pun terjadi saat sang kepala sekolah tiba-tiba bertanya kepadanya "apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku …?

Saat-saat yang tak diinginkannya itu pun terjadi, dengan teramat berat dia membuka tasnya. Tahukah pembaca apakah gerangan yang ada di dalamnya??? Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya, pembaca. Tidak ada. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah sesuatu yang ada di dalam tasnya, sesuatu yang ia sembunyikan.

Diiringi tetes demi tetes air matanya yang dari tadi ia pertahankan, keluarlah baris demi baris kalimat dari mulutnya.

“Maafkan saya bu, ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi, yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulang untuk keluarga saya di rumah untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki apa-apa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya tentang kami. Oleh sebab itu saya bersikukuh untuk tidak membuka tas tadi, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi. sekali lagi maafkan saya”. Sambil menarik napas panjang, sesekali terdengar isak tangisnya, tangis yang tak seorangpun dapat memahami artinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Semua mata yang menyaksikan dan mendengar peristiwa itu mencucurkan air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk pada siswi tersebut.

----------Selesai------------

Diatas adalah satu dari sekian banyak peristiwa kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Doa dan uluran tangan kita, setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.
Sumber :  http://situs-lakalaka.blogspot.com

Kamis, 28 Maret 2013

Bu Guru, Bolehkah Aku Tetap Memakai Jilbabku Saat di Foto?

SUATU kali aku dalam perjalanan pulang kerja, istriku menelpon. Padahal aku sudah akan tidur di bus. Aku bekerja di luar kota dan hampir setiap hari pulang-pergi memakai bus antarkota.

“Ya, ada apa?” tanyaku.

“Aku tadi sangat terharu,” ujarnya terbata-bata, “aku hampir menangis…”

Aku tiba-tiba mendapat firasat yang tidak enak. “Ya, ada apa gerangan?”

“Anak kita, si nomor satu…”

Aku segera mengingat wajah anakku nomor satu yang perempuan. Ia saat ini duduk di kelas 1 SD, baru masuk hanya beberapa bulan lalu. “Kenapa dengan dia?”

“Aku tadi merasa sangat haru dan sekaligus bangga….”

“Kamu berbelit-belit. Sakitkah dia?”

Tampaknya dia menggelengkan kepala. Aku merasakannya. “Tidak. Tadi di sekolahnya, ada pemotretan untuk buku raportnya…”

Aku menarik nafas lega. Setikaknya bukan sesuatu yang buruk yang akan kudengar dari mulut istriku selanjutnya, aku sudah cukup yakin. “Terus….?”

“Ia menceritakan kepadaku bahwa tadi ketika pemotretan akan dimulai, ibu guru kelasnya berkata bahwa semua murid perempuan harus membuka jilbabnya ketika difoto. Supaya tidak repot, begitu katanya…”

“Lantas?”

Istriku menarik nafas sejenak. “Lihatlah, aku masih tidak bisa menahan tangis karena haru. Kemudian ia berkata kepada gurunya… ‘Ibu guru, bolehkah aku tetap memakai jilbabku saja kalau difoto?’”

Aku tidak berkata apa-apa. Hanya mendengarkan dengan saksama.

Istriku melanjutkan. “Kemudian, ibu gurunya berkata, ‘Ya , silakan kalau kamu mau….’ Ia menjadi satu-satunya anak perempuan di kelasnya yang difoto dengan jilbabnya, begitu menurut penuturan bu gurunya tadi. Aku langsung terharu.

Aku sambut dia sepulang sekolah dan kukatakan kepadanya, ‘Nak, kamu boleh tidak mendapatkan nilai 100 dalam setiap pelajaran kamu. Namun apa yang sudah kamu lakukan sekarang, itu membuat Bunda sudah bangga akan kamu.’ Aku langsung memeluk dia. Sambil menangis.”

Aku mulai paham. “Ya…” ujarku tapi tidak bisa mengatakan yang lainnya.

“Kemudian aku bertanya kepadanya, ‘Kenapa kamu tidak mau difoto tanpa jilbab kamu?’. Ia menjawab, ‘Aku malu, Bunda.’”

Telepon kemudian di tutup. Aku melihat keluar jendela bus yang melaju cepat. Aku mengingat kembali telepon istriku. Aku mengingat anakku yang nomor satu, si tujuh tahun itu. Aku tersenyum dan bergetar. Ia sudah beranjak menyebalkan dalam banyak hal. Tapi aku tidak pernah berpikir ia bisa seperti itu;............ menolak difoto di ruangan publik tanpa jilbabnya.

Sumber: situs-lakalaka.blogspot.com